TUTUP
TUTUP
EkonomiHeadline

Alasan Pelajar SMA Ikut Demo Tolak Kenaikan Harga BBM: Orang Tua Saya Jadi Korban

ADMIN
13 September 2022, 9:12 PM WAT
Last Updated 2022-09-15T17:22:14Z
Foto: Istimewa


JAKARTA - Seorang siswa SMA ikut demo menolak kenaikan harga BBM yang diumumkan Jokowi pada 3 September 2022 lalu.


Alfiana Dewansyah misalnya, siswa SMA itu ikut dalam demonstrasi menolak kenaikan harga BBM bersama massa Gerakan Nasional Pembela Rakyat di GNPR yang digelar di Patung Kuda, Senin, 12 September 2022. Ia datang bersama teman-teman STM.


Alfiana mengatakan orang tuanya turut menjadi korban kenaikan harga BBM.


"Orang tua saya mengeluh (jadi korban) gara-gara kenaikan BBM. Saya ikut bela," tuturnya, saat ditemui di lokasi demo di kawasan Patung Arjuna Wijaya atau lebih dikenal dengan Patung Kuda.


Ia berangkat demo berdua bersama temannya dari Bekasi. Lalu bergabung bersama teman-teman STM dan massa GNPR.


Massa GNPR merupakan elemen gabungan dari massa Persatuan Alumni 212 (PA 212) yang terdiri atas Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) dan Front Persatuan Islam (FPI). Mereka melakukan demo menolak kenaikan harga BBM.


Aksi penolakan kenaikan harga BBM sebelumnya sudah terjadi sejak sepekan terakhir. Tak cuma di Jakarta, demonstrasi itu juga terjadi di wilayah lain di Indonesia.


Sebelumnya, berbagai kalangan masyarakat, baik mahasiswa, ojek online, serta ormas-ormas lainnya telah melakukan demo tolak kenaikan BBM sejak pemerintah resmi menaikkan harga BBM pada Sabtu, 3 September lalu.


Jokowi menaikkan harga BBM


Presiden Jokowi menaikkan harga BBM Pertalite Pertamina menjadi Rp 10 ribu per liter dari sebelumnya Rp7.650 per liter mulai Sabtu, 3 September pukul 14.30 WIB.


Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu, 3 September 2022 mengatakan pemerintah juga menaikkan harga BBM subsidi untuk solar dari Rp 5.150 rupiah per liter menjadi Rp 6.800 per liter.


Kemudian, untuk BBM non-subsidi, pemerintah pemerintah menaikkan harga Pertamax dari Rp12.500 per liter menjadi Rp14.500 per liter. 


Gelombang demo menolak kenaikan harga BBM terus berlangsung


Sembilan hari setelah Jokowi menaikkan harga BBM, gelombang demo masih terus berlangsung di berbagai daerah. Dan juga di kawasan Patung Kuda Monas, titik terdekat bagi para pendemo untuk menggelar aksi di Istana Presiden.


Senin kemarin, setidaknya tiga elemen masyarakat turun ke jalan menggelar demo ke Istana Presiden. Seperti protap yang sudah berlaku sebelumnya, massa yang menggelar demo hanya bisa menyampaikan aspirasinya.     


Mereka yang menggelar demo menolak kenaikan harga BBM adalah Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Tanah Air, dan Presidium Alumni 212 yang menamakan diri GNPR.


Pukul 10.30 massa dari KSPSI se-Jabodetabek membanjiri patung kuda sampai pukul 13.30. Mereka juga sempat ditemui oleh Kepala Sekretariat Negara Heru Budi Hartono.


KSPSI juga menyampaikan petisi tuntutan yang berisi: penolakan terhadap kenaikan BBM, pencabutan Omnibus Law, perlindungan terhadap pekerja migran, dan upah layak.


Selanjutnya Pukul 13.30 WIB, massa dari GNPR atau Gerakan Nasional Pembela Rakyat bergantian menggeruduk Patung Kuda. Demonstrasi ini digelar sampai pukul 17.00 WIB.


Massa ini banyak diisi oleh kelompok PA 212 dan Front Persaudaraan Islam (FPI), serta kelompok alumni UI.


Mereka datang dengan membawa sejumlah spanduk dan poster untuk menyuarakan tuntutannya yang menolak kenaikan harga BBM.


Pukul 16.00 WIB, massa dari Badan Eksekutif Mahasiwa Tanah Air datang. Massa dari mahasiswa kemudian beririsan dengan massa dari GNPR. Alpar Al Fauzan,


Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Tanah Air, sowan ke massa aksi GNPR. Mahasiswa juga bubar pada pukul 17.00. (*)

close