TUTUP
TUTUP
Internasional

Obama-Putin Desak Dihentikannya Konflik Suriah

Admin
19 June 2012, 3:26 PM WAT
Last Updated 2012-06-19T08:26:03Z
Foto yang dirilis PBB menunjukkan kepulan asap terlihat di kawasan permukiman di Talbisah di kota Homs, pada 9 Juni 2012. Laporan Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan, total korban tewas dalam pemberontakan terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad telah melebihi 14.000 orang. Sebagian besar di antaranya adalah warga sipil.

LOS CABOS - Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin menyerukan penghentian "segera" konflik di Suriah, sementara 94 orang dilaporkan tewas dalam serangan artileri di kota-kota negara itu.

Imbauan itu disampaikan kedua pemimpin tersebut saat Rusia dilaporkan bersiap-siap mengirim dua kapal perang serta marinir ke pangkalan angkatan lautnya di Suriah,

"Untuk menghentikan pertumpahan darah di Suriah, kami menyerukan penghentian segara semua aksi kekerasan," kata dua pemimpin itu di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok 20 (G-20) di Los Cabos, Meksiko, Senin (19/6/2012).

"Kami yakin rakyat Suriah harus mendapat kesempatan untuk secara bebas dan demokratis menentukan masa depan mereka sendiri," kata dua pemimpin itu.

Putin mengemukakan bahwa ia dan Obama memiliki "banyak titik persamaan" mengenai pemberontakan melawan Presiden Bashar al-Assad yang telah berlangsung selama 15 bulan itu.

Obama mengatakan ia dan Putin bersepakat tentang perlunya bagi satu proses politik" untuk menghentikan konflik itu dan berjanji akan membantu utusan PBB-Liga Arab Kofi Annan mengenai penyelesaian krisis itu.

Namun tidak banyak isyarat yang ditunjukkan kedua pemimpin mengenai suatu solusi untuk menghentikan konflik yang dilaporkan telah menyebabkan lebih dari 14.000 orang tewas itu.

Dalam beberapa kesempatan sebelum ini, AS menyatakaan rasa frustrasinya atas boikot Rusia pada usulan tindakan-tindakan Dewan Keamanan PBB terhadap rezim Assad.

Ketua misi PBB di Suriah akan melaporkan kepada Dewan Keamanan PBB Selasa mengenai konflik yang kian memburuk itu.

AS, Inggris dan Prancis sedang mengusahakan satu resolusi baru Dewan Keamanan yang mengancam pemberlakuan sanksi-sanksi terhadap Bashar. Perlu diketahui, Dua sekutu internasional Suriah, yakni Rusia dan China, telah menghambat dua resolusi.

94 warga sipil tewas


Sementara itu pasukan pemerintah Suriah terus menggempur pangkalan-pangkalan pemberontak di kota-kota Homs dan Damaskus. Kelompok Observatorium bagi Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan 94 orang tewas di seluruh negara itu Senin, termasuk 63 warga sipil, tiga tentara yang membangkang dan 28 tentara pemerintah.

Pasukan pemerintah meningkatkan pengepungan terhadap Kota Tasas di provinsi Paraa, basis pemberontak anti-pemerintah, kata  Tentara Pembebasan Suriah.

Baku tembak tetap berlangsung di beberapa daerah provinsi Damaskus termasuk kota-kota Douma dan Qudsaya yang telah digempur selama lima hari belakangan ini.

Di pihak lain, sekitar 300 pemantau yang tidak brrsenjata dalam misi pengawas PBB menangguhkan operasi-operasi Sabtu karena aksi kekerasan yang meningkat.

Pemimpin misi itu Mayjen Robert Mood mendesak pemerintah dan oposisi mengizinkan "wanita, anak-anak, orang tua dan mereka yang cedera untuk meninggalkan zona-zona konflik ". Tetapi sejauh ini belum ada izin diberikan.

Mood akan melaporkan kepada Dewan Keamanan PBB Selasa (20/6/2012) di tengah-tengah keraguan negara-negara Barat bahwa para pemantau itu akan diizinkan untuk tetap berada di negara itu.

Ketua komisi hak asasi manusia PBB Navi Pillay menuntut penghentian serangan pemerintah ke daerah-daerah penduduk. "Tindakan seperti itu merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan mungkin kejahatan perang," kata Pillay kepada Dewan HAM PBB. 
close