TUTUP
TUTUP
Lampung

Situasi Mesuji Mulai Kondusif

Admin
29 May 2012, 8:27 AM WAT
Last Updated 2016-03-09T22:24:28Z
BERANGSUR KONDUSIF: Masyarakat perambah Register 45 saat mendatangi PT Silva Inhutani, Minggu (27/5). FOTO DOK

MESUJI – Pascaaksi anarkis yang diduga dilakukan massa perambah Register 45, Mesuji, terhadap aset PT Silva Inhutani Lampung (PT SIL), kondisi berangsur kondusif. Polda Lampung menyatakan telah menurunkan tim untuk menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga tidak terjadi lagi kerusuhan di kemudian hari.

’’Polsek Simpangpematang dan Satuan Intelkam Polres Tulangbawang sudah mengumpulkan mereka dan memberikan penjelasan atas titik permasalahan yang terjadi hingga menyebabkan perusakan. Sekarang situasinya sudah tenang dan aman,” kata Kepala Bidang Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih di ruang kerjanya kemarin.

Perwira menengah ini menjelaskan, sebelumnya massa sempat emosi karena mendengar informasi ada perambah yang diamankan oleh pamswakarsa. ’’Tetapi, kami telah meluruskan isu itu. Kami nyatakan bahwa isu yang didengar oleh mereka semuanya tidak benar. Semua perambah dalam kondisi sehat. Jadi saat ini situasinya kondusif tanpa ada kerusuhan lagi,” tegasnya.

Saat disinggung apakah ada pelaku yang diamankan atas kerusuhan itu, Sulis –sapaan akrabnya– mengatakan belum ditemukan tersangka dalam peristiwa tersebut. Pihaknya saat ini masih menyelidiki kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. ’’Saat ini kami fokus mengamankan saja Mas. Menjaga agar kerusuhan tidak terjadi lagi,” ucapnya.

Senada, Kapolres Persiapan Kabupaten Mesuji AKBP Nazarudin mengaku akan menempuh langkah persuasif untuk mengatasi persoalan tersebut. Dalam waktu dekat, dia mengaku akan menemui tokoh masyarakat setempat. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui keinginan dari masing-masing masyarakat yang berada di kawasan Register 45 itu.

’’Sebagai orang baru, saya ingin berkenalan. Saya ingin mengobrol dari hati ke hati. Pendekatan secara kekeluargaan jauh lebih positif ketimbang cara represif,” kata Nazarudin kepada Radar Lampung melalui sambungan telepon kemarin.

’’Kita ingin yang baik-baik. Untuk apa ribu-ribut. Apa keinginan perambah dan perusahaan. Saya harapkan semua elemen mengedepankan rasa aman,” lanjutnya.

Nazarudin juga meminta agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan segelintir orang yang hanya mencari keuntungan di balik kekeruhan situasi. ’’Saya imbau masyarakat untuk tak terpancing dengan hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri, apalagi orang banyak. Yakinlah, pemerintah akan berbuat yang terbaik bagi kepentingan semua kalangan,” ungkapnya.

Sementara itu, Persatuan Petani Moro-Moro Way Serdang (PPMWS) juga menyerukan kepada semua pihak untuk menghentikan kekerasan. Seruan ini dilontarkan Sekjen PPMWS Sahrul Sidin. Menurutnya, tindak kekerasan hanya akan melanggengkan spiral kekerasan.

’’Saatnya kita mengedepankan cara-cara yang beradab dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Kami memahami situasi psikologi para petani di Register 45. Hanya, dengan melakukan kekerasan, maka sama saja kita terus menambah masalah yang ada,” ujarnya kemarin.

PPMWS juga berharap pemerintah melahirkan kebijakan yang prorakyat dan menghormati hak asasi manusia. Sebab, konflik di Register 45 adalah konflik yang sudah berlangsung belasan tahun tanpa ada penyelesaian yang memadai.

Seperti diberitakan Radar Lampung kemarin, penertiban 20-an rumah perambah di kawasan eks Pelitajaya, Register 45, oleh perusahaan pada Minggu (27/5) lalu memicu keributan. Ratusan perambah melakukan perusakan di Pos Satpam Alba 5 yang menyebabkan kaca-kaca pecah dan perlengkapan pos rusak. Massa juga sempat mengancam akan membakar pabrik pengolahan CPO milik PT Tunas Baru Lampung (TBL).

Menyusul peristiwa tersebut, Bupati Mesuji Hi. Khamamik langsung turun ke lokasi kejadian. Ia meminta aparat keamanan untuk melakukan tindakan tegas dan menegakkan aturan. Khamamik berharap jangan ada pembiaran terhadap segala bentuk kekerasan yang terjadi di Mesuji.

’’Saya minta kepolisian mengambil tindakan tegas. Kalau sedikit-sedikit main rusak, main  bakar, bisa rusak negara ini,” tegasnya saat mengunjungi PT TBL.

Sementara itu akibat diancam akan dibakar, seluruh aktivitas karyawan laki-laki berhenti. Mereka membawa kayu, bambu, dan senjata tajam berjaga-jaga di depan pintu gerbang pabrik.

’’Pabrik diancam akan dibakar, jadi kami seluruh karyawan tidak bekerja dan menjaga pintu gerbang. Apabila mereka memang datang ke sini, kami akan mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan pabrik yang selama ini menghidupi kami,” ujar Suratno, salah seorang karyawan.

Data yang berhasil dihimpun, keributan ini dipicu aksi penertiban yang dilakukan petugas keamanan perusahaan. Mereka menghalau 20-an kepala keluarga di Blok 28 kawasan eks Pelitajaya sekitar pukul 10.00 WIB. Penertiban atas inisiatif perusahaan itu berlangsung  hanya satu jam.

’’Penertiban berlangsung cepat. Pukul 11.00, tenda dan rumah kayu milik perambah telah berhasil dikosongkan,” ujar salah seorang anggota pamswakarsa yang tidak mau disebutkan namanya.

Ditambahkannya, sebagian perambah yang ditertibkan itu minta diantarkan ke Simpang Asahan karena akan kembali ke daerah asal. Namun, sebagian lainnya melaporkan ke perambah lain di kawasan Karyajaya bahwa sebagian dari mereka disandera oleh pamswakarsa perusahaan. Informasi itu yang membuat ratusan perambah mengamuk dan melakukan perusakan pos satpam di pintu masuk Alba 5 milik PT Silva.

Sayangnya, tidak ada satu pun warga perambah yang dapat dikonfirmasi terkait pemicu amuk massa ini. Mereka tampak tidak bersahabat dengan kedatangan wartawan. Beberapa di antaranya bahkan terang-terangan meminta wartawan untuk tidak melakukan aktivitas pemberitaan. Suasana di lokasi kejadian pada pukul 15.00 berangsur kondusif dan aktivitas bongkar muatan di pabrik pengolahan sawit PT TBL kembali berjalan normal.
close