TUTUP
Lampung

Tragedi Mesuji Lampung Ramai Diberitakan di Luar Negeri

Admin
18 December 2011, 12:16 AM WAT
Last Updated 2016-03-09T22:24:40Z
Inilah kondisi jalan yang hancur dan berlumpur menuju ke Desa Sritanjung, Kecamatan Tanjung Raya, Mesuji, Lampung, tempat terjadinya konflik antara warga dan perusahaan perkebunan sawit yang akhir-akhir ini mencuat. Belasan wartawan, Kamis (16/12/2011), beramai-ramai menuju kampung yang tak mudah dijangkau itu. (ist)

MESUJI - Serangkaian tragedi berdarah dan terungkapnya video yang disebut-sebut pembantaian petani di Mesuji, baik yang masuk Lampung maupun Sumsel, ternyata juga ramai diberitakan media asing.

Isu soal serangkaian konflik berdarah ini tidak hanya ramai dibicarakan di dalam negeri, melainkan juga menyita perhatian publik asing beberapa hari terakhir.

BBC News, media ternama yang bermarkas di Inggris misalnya, membuat judul "Pemerintah Indonesia Menyelidiki Kasus Pemenggalan Kepala Petani" pada Rabu (15/12/2011). 

Judul yang mirip juga diberitakan kantor berita Associated Press kemudian CBS News.

Berita juga gencar diberitakan di Australia. "Beberapa waktu lalu saya juga dikontak radio Australia mengenai hal ini," ujar Oki Hajiansyah Wahab, aktivis Aliansi Gerakan Reformasi Agraria yang aktif mengadvokasi soal konflik agraria di Mesuji, Jumat (16/12/2011) sore, seperti dilansir Kompas.

Lokasi Konflik 
Semenjak menjadi sorotan beberapa hari terakhir ini terkait dugaan ada video "pembantaian" warga, wilayah Mesuji, Provinsi Lampung, mendadak ramai dikunjungi wartawan dari berbagai media. Namun, mayoritas wilayah di pelosok Mesuji ini sangat tidak mudah dijangkau.

Untuk mencapai salah satu lokasi konflik, yaitu di Desa Sritanjung, Kecamatan Tanjung Raya, misalnya, pemburu berita harus bersusah payah mencapainya. Kondisi jalan menuju ke wilayah terpencil ini sangatlah buruk karena masih berupa tanah yang pada musim hujan penuh lumpur dan licin. 

Bahkan, untuk mencapainya, para wartawan harus rela menumpang truk petani dan melakukan off road melintasi jalan berlumpur.

Kendaraan mereka pun harus ditinggal di desa terdekat sejauh 12 kilometer dari Desa Sritanjung dan ganti menumpang truk yang biasa dipakai mengangkut kelapa sawit.

"Naik mobil biasa dijamin bakal macet. Pakai truk yang sudah biasa aja tetap berisiko terjebak lumpur," ucap Syamsuddin (34).

Terbukti, pada Jumat (16/12/2011) malam, truk yang ditumpangi belasan wartawan dan kru televisi terjebak di jalan berlumpur tebal di tengah perkebunan sawit di Sritanjung.

Sebelumnya, truk beberapa kali tergelincir akibat licinnya jalan. Beruntung, dengan penuh solidaritas, warga yang mengawal wartawan dibantu sebuah truk yang melintas segera menarik truk naas yang terjebak di jalan yang mirip kubangan kerbau itu.

Setelah satu jam terjebak, truk ini dapat terbebas dari lumpur. Di sepanjang perjalanan ditemui sebuah mobil Honda CRV yang ditinggalkan begitu saja di tengah jalan akibat terjebak kubangan.

Mengingat lokasinya yang tidak mudah dicapai, jarak tempuh ke Sritanjung dari Pasar Simpang Pematang, Mesuji, memerlukan waktu 4 jam. Padahal, jarak tempuh hanya sekitar 30 km. (*)
close