TUTUP
HeadlineHukum

Bripda RR Dinilai Berbohong, Hakim Marah: Cerita Kamu Tidak Masuk Akal Semua

Admin
05 December 2022, 9:03 PM WAT
Last Updated 2022-12-11T13:05:49Z
Ricky Rizal Wibowo alias Bripka RR (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Ketua Majelis Hakim Wahyu Iman Santosa memarahi Ricky Rizal Wibowo alias Bripka RR karena dinilai berbohong dan menutup-nutupi fakta.


Hal itu terungkap saat Ricky memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin, 5 Desember 2022.


Hakim mengatakan cerita Ricky Rizal sejak meninggalkan rumah Magelang sampai di rumah Saguling tidak masuk akal. 


Hakim ketua menuduh Ricky sengaja menutupi fakta, padahal bukti CCTV jelas. 


“Kamu tidak sayang sama anak-anakmu?” tegur hakim.


“Sayang Yang Mulia,” kata Ricky.


“Kamu berkorban untuk menutupi ini semua?” tanya lagi hakim.


“Siap, tidak Yang Mulia” jawab Ricky, dilansir Tempo.


“Kamu berkorban masa depan anak-anakmu untuk menutupi ini semua. Sampai hari ini kamu masih menutupi. Seolah-olah saya percaya dengan cerita kamu. Dari tadi saya diamkan saja cerita kamu. Saya tahu kapan kamu bohong kapan enggak. Cerita kamu tidak masuk di akal semua. CCTV jelas, bukti CCTV jelas. Bagaimana kamu bercerita seperti itu, tapi di sisi lain kamu ketika diperiksa di Provos bisa menceritakan detail apa yang terjadi, itu kan tidak masuk di akal,” ujar hakim.


Hakim Wahyu pun meminta Ricky agar mengingat kembali anak dan istrinya yang mendoakan agar ia bisa mendapat keringanan. 


“Tapi dengan begini kamu mencoba mengaburkan semua peristiwa itu. Saya ingatkan kepada saudara, saya tidak butuh pengakuan saudara karena dari awal jelas, kasus ini terbuka bisa sampai lanjut persidangan ini karena kesaksian Richard Eliezer. Bukan kesaksian dari kesaksian saudara,” tegas hakim.


Hakim pun memperingatkan agar Ricky tidak berbohong dan mengasihani anak-istrinya. Ia menegur Ricky karena bercerita seolah-olah tidak tahu Yosua akan ditembak, padahal dari awal Ricky sudah mengetahui skenarionya seperti itu.


“Saudara ini hanya bersaksi untuk mereka berdua. Tapi seolah-olah saudara ingin saudara tidak terlibat, seolah-olah saudara tidak tahu apa-apa. Kalau saudara ngomong kaya gitu seharusnya dari awal saudara mengaku ini loh faktanya seperti ini. Tapi kan saudara ikut membuat skenario ini, bener tidak?” tanya hakim.


“Siap! Jadi saya sampaikan Yang Mulia untuk skenario disampaikan Bapak (Ferdy Sambo) juga di Provos Yang Mulia,” kata Ricky.


“Maksudmu?” tanya hakim.


"Untuk skenario itu, jadi setelah peristiwa penembakkan, saya kembali lagi ke Duren Tiga, Yang Mulia. Setelah itu saya lihat ada beberapa anggota di situ, Bapak menyampaikan bahwa 'ada tembak-tembakan ajudan saya',” ujar Ricky.


Ricky mengaku Ferdy Sambo tidak menyampaikan skenarionya pada saat itu. Ia mengaku Ferdy Sambo hanya menyampaikan ada tembak-menembak antar ajudannya. 


Ketika itu Ferdy Sambo menjelaskan kepada eks Kanit I Subdit III Dittipidum Bareskrim Polri Ajun Komisaris Besar Polisi Ari Cahya bahwa ada adu tembak antara ajudan.


“Di situ saya berpikir ini tembak-tembakkan. Tetapi sementara cuma sebatas itu, tidak boleh menerangkan, si J ini langsung ditembak Richard,” kata Ricky.


Mengaku Kaget


Sebelumnya, Ricky Rizal mengaku kaget ketika Yosua alias Brigadir J ditembak oleh Richard Eliezer Pudihang Lumiu di rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, 8 Juli 2022.


Awalnya, Ricky menceritakan kepada majelis hakim menit-menit eksekusi Brigadir J saat menjadi saksi mahkota dengan terdakwa Kuat Ma’ruf di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin, 5 Desember 2022.


Saat itu Kuat Ma’ruf keluar dan mengatakan Ricky dan Yosua dipanggil Ferdy Sambo. Ricky pun memanggil Yosua yang ada di depannya. Yosua masuk terlebih dahulu diikuti Kuat kemudian Ricky.


“Saya di belakang, cuma agak terjeda karena saya sempat berhenti di depan mobil Kijang Innova hitam. Saat masuk Pak Ferdy Sambo ada di sebelah kiri Yosua, si Richard ada di sebelah kanannya, terus Om Kuat ada belakangnya Pak Ferdy Sambo,” kata Ricky.


Ricky melihat Yosua dan bertanya-tanya ketika Yosua disuruh jongkok oleh Ferdy Sambo. Ia mengatakan Richard langsung mengeluarkan senjata. Ketika mundur karena menolak jongkok, Richard langsung menembak Yosua.


“Saya lihat seperi ini 'Apa Pak, ada apa Pak?' Terus 'Jongkok, jongkok' si Richard langsung mengeluarkan senjata Yang Mulia. Begitu si Yosua mundur karena kan nggak mau jongkok, si Richard lepasin tembakan, 'kenapa ini' terus Dooor gitu Yang Mulia. Di situ saya kaget, ‘kok ditembak, kenapa?’ Terus ditembak sampai jatuh Yang Mulia.


Ricky langsung ke dapur karena mendengar suara ajudan Ferdy Sambo, Adzan Romer, dari luar. Ia ke dapur namun tidak melihat orang. Lantas mengalihkan pandangan ke ruang tengah lagi.


“Saya lihat ke tengah lagi, Pak Ferdy Sambo lagi nembakin dinding. Setelah itu saya hanya nunggu di dekat dapur. ‘Kenapa ini? Ada apa?’ Kan sempat takut Yang Mulia, kok bisa ada peristiwa seperti ini,” cerita Richard.


Ricky mengatakan Ferdy Sambo keluar dan tidak lama kemudian Romer masuk. Ricky lalu ke dapur dan Kuat Ma’ruf ke arah garasi. 


“Tidak berapa lama, Bapak (Ferdy Sambo) keluar dengan Ibu (Putri Candrawathi). Ibu nangis tapi dirangkul Bapak, melewati saya. Saya ikut ke garasi, bapak dan ibu ke carport, terus panggil saya, ‘antar ke Saguling’,” kata Ricky.


Berbeda dengan Dakwaan


Kesaksian Ricky yang mengaku kaget berbeda dengan surat dakwaan jaksa penuntut umum. 


Pasalnya, dalam surat dakwaan Ricky Rizal mengetahui akan ada penembakan terhadap Yosua ketika Ferdy Sambo merencanakan plot pembunuhan di lantai tiga rumah Jalan Saguling 3.


Dalam surat dakwaannya, JPU menuduh Ricky mengetahui dan membantu Ferdy Sambo dalam pembunuhan Yosua di rumah dinasnya pada 8 Juli lalu. 


Ferdy Sambo disebut marah setelah mendengar keterangan sepihak dari istrinya, Putri Candrawathi yang mengaku dilecehkan Yosua di Magelang pada 7 Juli 2022. Ia pun lantas memanggil ajudannya Ricky Rizal menggunakan handie talkie (HT) ke lantai tiga. 


Ferdy Sambo sempat menanyakan Ricky Rizal apa yang terjadi di Magelang dan dijawab tidak tahu. Atasannya itu pun lantas menjelaskan istrinya dilecehkan. 


Ia pun bertanya kepada Ricky apakah ia sanggup menembak Yosua. Ricky menyatakan tidak sanggup. Ia pun meminta Richard Eliezer menembak Yosua. 


Eksekusi Yosua berlangsung antara pukul 17.11-17.16 ketika Ferdy Sambo tiba di rumah dinas Kompleks Polri Duren Tiga. Ferdy Sambo memegang leher belakang Yosua dan mendorongnya hingga berada di depan tangga lantai satu. 


Yosua berhadapan dengan Ferdy Sambo dan Richard Eliezer, sementara Kuat Ma’ruf berada di belakang Ferdy Sambo dan Ricky Rizal bersiaga apabila Yosua melawan. 


Kuat Ma’ruf juga menyiapkan pisau yang ia bawa dari Magelang untuk berjaga-jaga apabila Yosua melawan. 


Adapun Putri Candrawathi berada di kamar lantai satu yang hanya berjarak tiga meter dari posisi Brigadir J. (*)

close