TUTUP
HeadlineNasional

Termasuk Dokter Pribadi Presiden Sukarno, Ini Lima Pahlawan Nasional Baru

Admin
04 November 2022, 9:35 AM WAT
Last Updated 2022-11-13T03:25:40Z
Mahfud MD (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) akan menyematkan gelar pahlawan nasional ke dr Soeharto, yang juga dikenal sebagai dokter pribadi Presiden pertama RI sekaligus proklamator, Sukarno.


Penyematan gelar itu akan dilakukan pada peringatan Hari Pahlawan pada 7 November mendatang. Selain dr Soeharto, total ada lima tokoh yang akan menerima gelar tersebut.


"Bapak Presiden sesudah berdiskusi dengan kami, dengan Dewan Gelar dan Tanda-Tanda Kehormatan, itu memutuskan tahun ini memberikan lima (gelar pahlawan nasional) kepada tokoh-tokoh bangsa yang telah ikut berjuang mendirikan negara Republik Indonesia," kata Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, Mahfud MD, dikutip dari keterangan tertulis Sekretariat Presiden, dilansir CNNIndonesia, Kamis (3/11/2022).


Mahfud menjelaskan dr. Soeharto dipilih karena berjasa berjuang bersama Sukarno dalam mewujudkan kemerdekaan. Selain itu, dr. Soeharto juga ikut dalam sejumlah pembangunan pascakemerdekaan.


Soeharto disebutkan terlibat dalam pembangunan pasar swalayan syariah, Monumen Nasional, Masjid Istiqlal, Rumah Sakit Jakarta, dan pendirian Ikatan Dokter Indonesia (IDI).


Selain dr Soeharto, Jokowi juga akan menyematkan gelar pahlawan nasional kepada KGPAA Paku Alam VIII. Alhmarhum merupakan Raja Paku Alam yang menyatakan kesediaan bergabung dengan Republik Indonesia sehari setelah kemerdekaan.


Lalu ada pejuang Raden Rubini Natawisastra yang menjalankan peran sebagai dokter keliling. Rubini dan istrinya wafat setelah dihukum mati oleh Jepang.


Tokoh keempat yang menerima gelar itu adalah Salahuddin bin Talibuddin. Tokoh Maluku Utara itu berjuang memerdekakan Indonesia selama 32 tahun. Ia pernah dibuang oleh penjajah ke sejumlah daerah terpencil.


Satu tokoh lainnya yang menerima gelar pahlawan nasional adalah K.H. Ahmad Sanusi dari Jawa Barat. Ia adalah anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).


"Dari semula ada sisi kanan ingin menjadikan negara Islam, sisi kiri menjadikan negara sekuler, kemudian diambil jalan tengah lahirlah ideologi Pancasila sesudah menyetujui pencoretan tujuh kata di Piagam Jakarta," ucap Mahfud. (*)

close