TUTUP
TUTUP
Kesehatan

Ekstasi untuk Obati Trauma Mulai Diuji Coba

Admin
03 October 2011, 3:41 PM WAT
Last Updated 2022-08-29T00:13:44Z
PENGGUNAAN ekstasi sangat dibatasi karena rentan penyalahgunaan. Namun kelak, obat ini akan lebih mudah didapatkan jika hasil uji coba menunjukkan bahwa obat ini bisa mengatasi trauma pada veteran perang dan korban pelecehan seksual.

Uji coba untuk membuktikan manfaat lain dari ekstasi tersebut saat ini tengah disiapkan para ahli psikofarmakologi di Inggris. Jika hasilnya positif, maka kelak ekstasi bisa digunakan untuk mengobati tekanan psikologis akibat trauma di masa lalu.

"Saya rasa sudah banyak obat dengan berbagai potensi manfaat yang ditolak oleh pasien maupun peneliti hanya karena dianggap ilegal," ungkap Prof David Nutt, seorang ahli psikofarmakologi yang mendukung uji coba tersebut seperti dikutip dari The Guardian, Senin (3/10/2011).

Untuk bisa digunakan sebagai obat penghilang trauma, ekstasi harus melalui serangkaian uji coba yang hasilnya diharapkan selalu konsisten. Jika dalam uji coba masih sering gagal, tentunya risiko penyalahgunaan akan lebih dipertimbangkan dibandingkan manfaatnya yang tidak seberapa.

Sebelumnya, para peneliti dari Amerika Serikat sudah menguji ekstasi pada 20 pasien yang memiliki trauma psikologis dan mengonsumsi obat psikotropika sedikitnya selama 19 tahun. Sebanyak 12 pasien diberi tambahan ekstasi, sedangkan sisanya hanya diberi plasebo atau obat kosong.

Setelah diamati terus menerus selama 2 bulan, kondisi kejiwaan tampak membaik pada 83 persen pasien dengan tambahan ekstasi. Perbedaannya cukup signifikan dibandingkan pada kelompok plasebo yang hanya 23 persen, sementara efek sampingnya dilaporkan tidak teramati.

Ekstasi atau Methylene Dioxy Meth Amphetamine (MDMA) merupakan obat psikotropika, yang digolongkan sebagai stimulansia atau pembangkit stamina. Di kalangan pecandu obat terlarang, obat ini banyak disalahgunakan sebagai doping untuk berjoget sepanjang malam.

Karena bekerja di susunan saraf pusat, obat ini juga memicu euforia atau rasa gembira yang meluap-luap sehingga penggunanya lupa diri lalu pingsan karena dehidrasi atau bahkan bisa mengalami serangan jantung. Selain itu, ekstasi juga bisa menyebabkan kecanduan yang sulit disembuhkan.

sumber : detik
close