TUTUP
TUTUP
LampungMedia Sosial

Psikolog RSJ Lampung Sebut Pernikahan Pria dengan Dua Wanita Sepupuan Aneh-Tak Lazim

Admin
06 August 2022, 7:27 AM WAT
Last Updated 2022-09-06T05:31:46Z
Foto: Tangkapan Layar

BANDAR LAMPUNG - Video dan foto memperlihatkan seorang pemuda mempersunting dua wanita sekaligus, yang kedua perempuan itu masih saudara sepupu dalam satu acara resepsi pernikahan viral.


Peristiwa unik dan langka itu terjadi di Desa Aji Kagungan, Kecamatan Abung Kunang, Kabupaten Lampung Utara.


Dalam foto resepsi, nampak seorang pemuda bersanding di pelaminan ditemani dua perempuan berdiri tepat di sebelah kiri dan kanannya.


Pengantin pria yang memperlihatkan mimik wajah tersenyum ke arah lensa kamera tersebut mengenakan jas dan dasi warna hitam, berbalut kemeja lengan panjang putih.


Pria itu juga terlihat memakai kopiah dan kain sarung tapis warna emas. Sementara kedua mempelai wanita menggunakan kebaya putih, serat dilengkapi aksesori pernikahan khas adat Lampung.


Namun kedua pengantin wanita tersebut mengenakan jilbab yang berlainan warna.


"Ingatin, kalian sepupuan. Ingat asal kalian, asal kalian satu. Makanya tidak boleh berantem, ingatin asal kalian kakak beradik," ujar seorang ibu menasehati para mempelai, dalam video yang dilihat pada Jumat (5/8/2022).


Menurut Psikolog Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung, Retno Riani, peristiwa pernikahan tersebut tergolong aneh dan tak lazim,


"Sejatinya, menuju suatu pernikahan harus diikuti dengan proses perkenalan, untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan serta keluarga," ujarnya.


Selain itu, pernikahan juga bertujuan untuk mendidik dan membimbing, bukan semata melampiaskan hasrat seksualitas semata.


"Perkawinan tujuannya adalah apabila punya anak, kita akan mampu menurunkan keturunan yang baik. Tapi apakah mungkin, dengan model seperti ini bisa memiliki keluarga yang baik. Kita yang wajar-wajar saja dengan perkawinan normal punya anak, masalahnya banyak. Apalagi dengan seperti ini," urai Retno, dilansir IDNTimes.


Menurut dia, sejatinya pihak keluarga mampu memberikan intervensi kepada sang anak, dikarenakan dalam keluarga itu amat tidak patut dan tak memiliki etika.


"Istri bukan sekadar dikawini, tapi harus ada pendidikan di dalamnya. Bukan dalam tanda kutip ketika anak hamil, justru orang tua pasrah dan memilih pernikahan sebagai jalan keluar," kata Retno.


Dia berpandangan, pernikahan sehat diketahui banyak orang dan berawal serta diniat tulus dari kebaikan.


Sementara pernikahan tidak sehat, dilandasi sesuatu berkebutuhan mendesak hingga wajib disegerakan, tanpa memikirkan dampak ke depannya.


"Usia mempelai ini masih sangat muda, bisa dikatakan belum matang. Besar kemungkinan pernikahan ini akan lahir banyak persoalan, karena mereka memulainya dengan persoalan," ujar Retno.


Dia berpesan agar masing-masing pihak keluarga mempelai dapat terus mendampingi dan sabar dalam membimbing para anak guna mengarungi biduk rumah tangga.


"Mereka masih butuh bimbingan orang tua, saya harap orang tua dapat membantu anak-anak menyelesaikan tiap permasalahan rumah tangga," kata Retno.


Terlanjur 'mengisi'


Sebelumnya, Kepala Desa Aji Kagungan, Nurlaina membenarkan peristiwa tak biasa tersebut terjadi di desa setempat.


Resepsi pernikahan itu berlangsung di kediaman M Saleh yaitu, pihak orang tua mempelai pria bernama Rahmadi (19).


Diketahui kedua mempelai wanita itu masing-masing bernama Dela Novita Lingga dan Sri Yana, yang juga masih sebaya dengan pengantin pria.


"Resepsinya kemarin berjalan lancar, tidak ada masalah untuk kedua keluarga pihak perempuan. Semuanya baik-baik saja,” ujar Nurlaina.


Acara resepsi pernikahan viral tersebut sejatinya diperuntukkan bagi Rahmadi dan Sri. Sedangkan acara antara Rahmadi dan Dela sudah berlangsung lebih dahulu.


“Kalau nikahnya beda 10 hari antara Dela dan Sri, mereka berdua ini (Sri dan Dela) juga sebenarnya masih bersaudara sepupuan," kata Nurlaina.


Nurlaina juga mengungkapkan jika pernikahan antara ketiga anak muda tersebut berlangsung lantaran kedua mempelai wanita sudah terlanjur 'mengisi'.


Selain itu, kedua keluarga perempuan turut memberikan sesan alias harta bawaan istri kepada pengantin pria.


“Tidak ada masalah, kedua keluarga perempuan juga sudah sama-sama menerima,” ujar Nurlaina. (*)

close