TUTUP
EkonomiHeadline

DPR Minta Pemerintah Jangan Naikkan Harga Pertalite dan Solar: Tahan Dulu

Admin
25 August 2022, 12:30 PM WAT
Last Updated 2022-08-25T05:30:47Z
Foto: Ilustrasi/Istimewa

JAKARTA - Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) Sugeng Suparwoto meminta agar pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar untuk saat ini. 


“Kalau memang profit pemerintah masih cukup, tahan saja dulu,” ujarnya, dalam rapat kerja bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu, 24 Agustus 2022.


Menurut Sugeng, sebaiknya kalau dalam istilah politik ekonomi, beli saja inflasi Adanya subsidi itu untuk membeli inflasi.


Itu karena secara linear jika harga Pertalite naik 10 persen saja akan meningkatkan inflasi kurang lebih 0,5 persen.


“Itu baru Pertalite saja. Belum implikasi lainnya,” jelas Sugeng, dilansir Tempo.


Jika harga Pertalite naik 10 persen ditambah dengan implikasi lainnya, diperkirakan inflasi naik 1,5 persen.


Padahal, dalam hitung-hitungan kebijakan yang sudah diuji sedemikian rupa, kemampuan inflasi Indonesia tidak boleh lebih dari 7 persen.


Saat ini saja inflasi sudah 4,99 persen, sebagaimana dilaporkan Presiden Joko Widodo dan optimis tahun depan ekonomi akan tumbuh 5,3 persendengan inflasi 3,3 persen.


Politikus Partai NaDem itu menilai target tersebut hampir mustahil jika tidak diguyur dengan subsidi yang luar biasa besar. 


“Laporan dari berbagai analis menyatakan memang growth akan berhenti di kurang lebih US$ 90 per barel,” kata Sugeng.


Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi. 


Kenaikan itu dilakukan lantaran pemerintah telah memberi subsidi yang besar untuk energi, hingga membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) begitu kuat. 


"Nanti mungkin minggu depan Presiden akan mengumumkan mengenai apa bagaimana kenaikan harga ini," ujarnya di Universitas Hasanuddin, Makassar, seperti dikutip dalam video YouTube pada Jumat, 19 Agustus 2022. 


Luhut berujar presiden sudah mengindikasikan bahwa pemerintah tidak mungkin mempertahankan besarnya subsidi energi.


Sebab, menurutnya harga BBM di Indonesia adalah yang termurah.


"Kita jauh lebih murah dari yang lain dan itu beban APBN yang besar kita," ucapnya. 


Pemerintah sebelumnya telah memberi sinyal kenaikan harga BBM bersubsidi. Sinyal ini menguat setelah anggaran subsidi dan kompensasi energi membengkak sampai Rp 502 triliun.


Sementara Kepala Sekretariat Kepresidenan Heru Budi Hartono mengatakan Jokowi belum memiliki keputusan apapun ihwal menaikkan harga BBM bersubsidi, baik untuk pertalite maupun solar.


Dia pun belum bisa mengonfirmasi mengenai agenda Kepala Negara untuk mengumumkan harga BBM bersubsi itu peka depan. 


"Belum ada keputusan, masih dibahas," kata Heru saat ditemui di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu, 20 Agustus 2022.


Heru menjelaskan, keputusan ini belum ditetapkan karena jajaran menteri Jokowi masih membahas mengenai penentuan harga BBM bersubsidi itu di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia.


Karena itu, dia juga belum tahu adanya informasi Presiden akan mengumumkan kenaikan.


"Sedang dibahas, kan Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, Pak Menko, sedang membahas. Tapi nanti hal pengumumannya kita belum tahu, sedang dibahas," ucap Heru. (*)

close